usaha rumahan dan respon tetangga
Beberapa hari yang lalu, Om Nh menurunkan dua tulisan sekaligus dalam dua blog beliau dengan tema yang sama. Pada blog TOT Voice,
beliau menuliskan tentang 3 jenis usaha bisnis yang dilakoni tetangga
yang jika boleh memilih, beliau tidak ingin bertetangga dengannya, yakni
bengkel, ternak dan pabrik tahu. Sementara pada blog TOT Writes, beliau menuliskan tentang 3 jenis usaha bisnis tetangga yang beliau sukai, yakni warung, rumah makan dan laundry.
Sejatinya, aku juga setuju dengan
pendapat beliau tersebut. Namun, aku ingin menceritakan di sini, tentang
pengalamanku dari sisi pemilik usaha rumahan tersebut dan respon apa
yang kami terima dari tetangga terhadapnya.
Di Duri-Riau, di rumah keluarga besarku,
kami memanfaatkannya untuk usaha rumahan. Salah satu pengalaman yang
tak terlupakan terkait dengan usaha rumahan ini dan respon tetangga
terhadapnya adalah usaha ternak ayam.
Sebagian sahabat di sini mungkin pernah membaca tulisanku berjudul DOYOK
(kalau belum, monggo dibaca ya). Di situ aku menceritakan bahwa kami
pernah punya usaha keluarga berupa peternakan ayam pedaging. Usaha
tersebut kami buat di halaman belakang rumah yang kebetulan berukuran
lumayan luas. Usaha tersebut kami mulai sekitar awal tahun 80-an.
Awalnya, usaha tersebut tidak
menimbulkan masalah apapun. Malah, melalui usaha tersebut, banyak
tetangga yang terbantu, baik dari sisi ekonomi maupun kemudahan mereka
mendapatkan ayam segar. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, usaha
tersebut malah menjadi masalah bagi ketenangan penciuman para tetangga.
Ya.. aroma yang disebarkan oleh kandang-kandang ayam tersebut telah
mengganggu para tetangga.
Apakah kami tidak memikirkan sebelumnya
soal itu? Pastinya iya… Papaku berketatapan hati untuk membuat usaha
tersebut setelah mempertimbangkan terlebih dahulu dampak-dampak
lingkungannya.
Rumah kami tersebut sesungguhnya pada
awalnya berada di daerah terpencil. Tetangga kiri-kanan-muka-belakang
masih sangat sedikit dan berjarak. Dan lingkungan kami pun masih banyak
hutan-hutan kecil yang semakin menegaskan bahwa kami tinggal di daerah
terpencil. Namun, entah mengapa, lama kelamaan semakin banyak saja orang
yang membeli tanah di situ dan membangun rumah. Akibatnya, daerah
tempat tinggal kami menjadi daerah yang padat dan ramai.
Dengan semakin padatnya penduduk yang
tinggal di lingkungan kami, maka dampak dari peternakan kami tersebut
semakin terasa bagi ketenangan para tetangga. Papaku sudah menyadarinya
dan berencana akan memindahkan usaha tersebut. Namun, sebelum rencana
tersebut ditunaikan, tetangga sudah bertindak lebih cepat.
Secara mengejutkan, di suatu pagi, kami
menemukan ayam-ayam kami mati secara berjamaah. Masih ada beberapa ekor
yang hidup, namun dalam kondisi yang mengenaskan. Pemandangan tersebut
tentu sangat menyayat hati. Namun, apa lagi yang bisa kami perbuat
selain menerima dengan ikhlas kenyataan tersebut dan menutup usaha
peternakan itu tanpa berencana membukanya kembali, meski di tempat lain.
Papaku kemudian berkata, barangkali ini
cara Tuhan menegur kita untuk tidak kemaruk dalam berbisnis. Dengan
membuka peternakan ayam, memang kami bisa menyuplai untuk rumah makan
kami, dan biaya bisa ditekan. Dari sisi ekonomi, kami memang cukup
diuntungkan. Namun, tindakan semacam itu sesungguhnya telah membuat kami
bersikap monopolis dan jauh dari semangat berbagi.
Begitulah pembelajaran mahal yang kami
dapatkan dari pengalaman tersebut. Dan satu lagi yang kami pelajari
bahwa jika kita tidak suka dengan usaha yang dilakoni tetangga,
selayaknya kita sampaikan keberatan tersebut dengan santun, bukan dengan
membubuhkan racun..
Nah, apakah setelah itu lantas kami kapok bikin usaha rumahan?
Ouw.. tidak sama sekali..!! Naluri pedagang kami sepertinya tidak bisa dibendung, haha…
Ada beberapa usaha rumahan yang kembali
dirintis orangtuaku sejak itu. Antara lain jual beli karpet dan guci
antik serta warung untuk keperluan sehari-hari. Usaha warung lah yang
masih bertahan sampai saat ini.
Om Nh ternyata benar.. Usaha warung
sangat “aman” untuk dilakoni dalam lingkungan perumahan yang banyak
tetangganya. Malah, usaha warung itu sangat membantu meringankan masalah
para tentangga, baik masalah kebutuhan mendadak, maupun masalah
“ekonomi” yang sering terjadi di penghujung bulan..
Inilah warung kami tersebut..Bagaimana dengan sahabat, apakah punya pengalaman dengan usaha rumahan?


0 Comments:
Post a Comment